Not Found

The requested URL /index.php was not found on this server.

Additionally, a 404 Not Found error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request

@ID_AYAHASI http://www.ayahasi.org Kami bukan ahli, justru berawal dari kesalahan yang berujung kesadaran, kami ingin berbagi Sat, 22 Apr 2017 14:53:36 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=4.7.5 http://www.ayahasi.org/wp-content/uploads/2017/04/Avatar_AyahASI-150x150.png @ID_AYAHASI http://www.ayahasi.org 32 32 ASI Bukan Cuma Masalah Ibu http://www.ayahasi.org/asi-bukan-cuma-masalah-ibu.html http://www.ayahasi.org/asi-bukan-cuma-masalah-ibu.html#respond Sat, 22 Apr 2017 14:23:13 +0000 http://www.ayahasi.org/?p=740 Rilis UNICEF tahun 2016 menyebutkan hanya 55 persen bayi di Indonesia yang mendapat asupan air susu ibu (ASI) hingga usianya mencapai dua tahun. Ini memperlihatkan, Indonesia masih gagal menjalankan kebiasaan asupan ASI yang membutuhkan konsistensi sebagai syarat utama.

Niatan dan ketekunan jadi kunci bayi Indonesia bisa mendapatkan manfaat optimal ASI. Dan jangan salah, niatan ini bukan cuma melulu persoalan ibu, melainkan negara.
Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif menunjukkan bahwa asupan ASI melibatkan peran ibu, lingkungan, dunia kerja, dan tentu saja pemerintah.
ASI ialah kepentingan publik yang tidak bisa disepelekan. Asupan ASI yang baik sulit terwujud jika tak ada dukungan dari segala sisi.
Kebutuhan ruang dan waktu untuk memberikan ASI terhadap bayi makin mendesak di tengah meningkatnya angka ibu bekerja dan tingginya mobilitas masyarakat.
Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia, dr. Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC, mengatakan ada tiga faktor yang mendukung lancarnya pemberian ASI.Pertama, faktor dukungan seperti kebijakan pimpinan, solidaritas teman-teman, rumah (keluarga). Kedua adalah ketersediaan waktu, ujarnya.
Ibu bekerja mestinya mendapat waktu untuk memerah ASI dan mengasuh bayi.
Perlu ruangan khusus. Ruang pumping, ruang untuk menitipkan bayi. Ini terkait dengan faktor ketiga, yakni ketersediaan ruang atau sarana umum, kata Wiyarni.
Ia menegaskan, ruangan khusus untuk ibu menyusui amat penting didirikan sebagai bagian dari fasilitas publik.
Sebetulnya bayi yang masih ASI eksklusif tidak boleh lama-lama berpisah dengan ibunya. Ibu tetap harus diberikan hak untuk menyusui, ujar Wiyarni.
Untuk itu, diterbitkanlah peraturan khusus. Ruang laktasi diatur detail lewat Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu. Aturan ini bahkan mengatur tata cara pembangunan ruang laktasi hingga pemilihan bahan bangunan.
Akhir tahun kemarin, muncul juga Rancangan Peraturan Daerah yang melindungi ruang menyusui. Ada 20-30 lebih pemerintah daerah yang sekarang pun mulai menyusun peraturan. Tinggal bagaimana agar peraturan tersebut benar-benar dilaksanakan, tutur dosen Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara Jakarta tersebut.
Implementasi memang menjadi faktor mendasar kesuksesan peraturan pemerintah.
Pasal 5 dalam PP ASI Eksklusif menyebutkan bahwa setiap orang harus menyediakan akses untuk pemberian ASI eksklusif, termasuk di tempat kerja, kata Wiyarni.
Hal senada diungkapkan Nia Umar, konselor menyusui dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Tantangan utama lebih kepada ibu yang bekerja, ujarnya kepada kumparan, Senin (6/2).
Namun, imbuhnya, hambatan bukan hanya pada ketersediaan ruang yang tak selalu ada, melainkan juga lingkungan yang suportif terhadap ibu menyusui.
Di perkotaan biasanya sudah difasilitasi. Yang menjadi PR besar adalah pekerja di sektor informal. Masalahnya terdapat pada jam kerja dan kondisi kerja, kata Nia.
Karena begitu penting, menyusui harus menjadi norma yang berlaku, dan harusnya dapat dilakukan di manapun dan kapanpun. Setiap orang harus paham bahwa menyusui adalah hal alamiah, seperti makan dan minum, ujarnya.
ASI adalah hak dasar manusia.
ASI, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperlukan untuk membentuk landasan penting dalam tubuh manusia, yaitu kekebalan tubuh dan pertumbuhan saraf motorik.
Menyusui bukan hanya memberi asupan, namun praktik yang didambakan. UNICEF mencatat, 96 persen ibu di Indonesia pernah menyusui anaknya. Artinya, nyaris tak satupun ibu di Indonesia yang ingin melewatkan momen menyusui.
Namun kebutuhan bayi akan ASI tidak sesederhana itu. ASI harus diberikan dengan standar-standar tertentu. Terdapat prekondisi pemberian ASI optimal yang dinamakan Gold Standard of Infant Feeding.
Pertama yaitu Inisiasi Menyusui Dini atau 90 menit menyusui dini setelah kelahiran. Selanjutnya ASI Eksklusif selama 6 bulan tanpa asupan makanan lain. Dilanjutkan dengan mulai memberikan pendamping ASI yang berkualitas. Kemudian, ASI bisa diteruskan sampai bayi berusia dua tahun, kata Nia ketika dihubungi kumparan.
Periode ASI eksklusif 6 bulan inilah yang masih perlu menjadi perhatian. Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2013 menunjukkan, angka pemberian ASI eksklusif belum mencapai separuhnya. Hanya 42 persen bayi di Indonesia yang beruntung mendapat asupan ASI 6 bulan tanpa putus.
Jika merujuk data lain, yaitu Pemantauan Standar Gizi tahun 2015, dokumen tersebut bahkan mencatat 65 persen bayi Indonesia menikmati ASI 6 bulan. Sementara sisanya mendapat asupan ASI diselingi susu formula.
Pola menyusui parsial dialami oleh 82 persen bayi di Indonesia.
Di sisi lain, data menunjukkan bahwa angka ibu menyusui di Indonesia sudah berada pada jalur yang tepat. Data global menyebutkan bahwa pada tahun 2025 akan ada 50 persen bayi yang mendapat asupan ASI. Angka tersebut dianggap sudah on track ujar dr. Wiyarni.
Namun, ujar Wiyarni, ia tak yakin dengan kondisi sesungguhnya di lapangan, karena hingga saat ini masih mendapati banyak keluhan.
Anak adalah masa depan bangsa, dan karenanya mesti mendapat asupan tepat sejak lahir.
Jelas sudah, ASI bukan sekadar masalah domestik ibu.
sumber:https://kumparan.com/ardhana-pragota/asi-bukan-cuma-masalah-ibu
]]>
http://www.ayahasi.org/asi-bukan-cuma-masalah-ibu.html/feed 0
Breastfeeding Dads: Why We Are Mobilizing An Army In Indonesia http://www.ayahasi.org/breast-feeding-dads-why-were-mobilising-an-army-in-indonesia.html http://www.ayahasi.org/breast-feeding-dads-why-were-mobilising-an-army-in-indonesia.html#respond Mon, 20 Jun 2016 06:28:25 +0000 http://www.ayahasi.org/?p=562

Here in Indonesia, we re mobilising a dads army help in the fight against aggressive marketing by some baby milk substitute companies. Unlike the old comedy series in the UK, we re deadly serious about our message.

I understand how a baby milk substitute company can get its sales in developing countries like Indonesia: I worked on the marketing campaign for one of them just a few years ago. The campaign I worked on took the company from being a relative unknown to a market leader in Indonesia in just two weeks. But, after the birth of my first child the hospital fed him formula milk without my permission. It made me furious, and at that point my conscience was triggered. I ve since left the world of breast milk formula marketing behind me.

After that experience in the hospital I thought to myself, if we can create a marketing campaign that is so successful for a baby milk substitute product then why can t we create a campaign for breast-feeding, to show the huge benefits that it can have. In Indonesia we ve made a start: myself and seven other dads founded AyahAsi (the breastfeeding fathers association) but there is still a huge job to be done. It s one that the rest of the world needs to join us on.

Let me clear: I m not against formula milk in and of itself. There are times when it is needed and beneficial to the infant. What I m against is some of the marketing campaigns around it, particularly in countries where the majority of people are unable to make an informed choice between formula milk and breast-feeding. I ve since turned down agency work that was to work with these milk products. There s plenty of this work out there – these companies are gathering a lot of the brightest strategists in Indonesia to work for them: we re an emerging economy and the fourth biggest population in the world, so why wouldn t they be attracted to the country.

But, in Indonesia this choice between breast milk substitutes and breast-feeding really can be life and death. Save the Children s new report shows that 95 babies could be saved every hour if they were breastfed in just the first hour of life. The Indonesian government themselves have calculated that we can save 30,000 babies lives every year if they were breastfed. In Indonesia access to clean water to make up the formula is very limited and all too often people don t have the education to be able to make an informed decision themselves.

Even my wife and I, with the relative luxury of our middle class education and middle class income, found ourselves with a lack of information about breastfeeding. When my wife became pregnant with our first child our friends encouraged us to do exclusive breast-feeding. We were keen to give it a try but after she gave birth in the hospital we felt lost – we didn t know what do next, no one had given us any information about breast-feeding and what to do after the birth. In Indonesia it s common for the baby to be taken away after the birth so that the mother can rest. When they bought our baby back we found that he didn t seem hungry, just sleepy. I d been seeing a logo around the hospital that was all too familiar for me and when I really pushed the staff to find out why my son wasn t hungry it turned out that they d given him formula milk without our permission.

I was angry, but most of all because I knew what they were probably getting in return for giving that formula milk to my son. I said we d buy some formula to keep the midwives happy but then we took him home and after searching online for breastfeeding advice my wife went on to exclusively breast-fed him.

That moment in the hospital really triggered my conscience. I only realised what was going on because I d helped create the marketing tricks for that milk substitute product – if my wife and I, who had the good fortune to have a good education and be able to afford formula, could still end up being duped by the hospital what chance was there for the many, many others in Indonesia who aren t fortunate enough to have this education and insider knowledge of marketing.

It was at that point that I thought to myself, where is the exciting marketing campaign to raise awareness of the huge benefits that breast-feeding can have?

Like many Indonesians, I m a huge fan of twitter and so took to the tweet-waves to ask this question. Through twitter I found AIMI – a group of online Mums who provide mother-to-mother support around breast-feeding and also campaign around aggressive corporate marketing practices. Through AIMI & twitter I met other Dads who were keen to help promote the benefits of breast-feeding and show Dads how they can support their wives. So, eight of us founded AyahAsi, the Indonesian breast-feeding Dads association.

Through the market research I d read in my old job I knew that one of the best ways to reach women was to reach out to their husband, so that s one of the key things we try to do with AyahAsi. We try to make it both practical and fun. And we also want to avoid that tag ‘lactivists – painting people as radicals isn t helpful here. Instead, we focus on what we know appeals to men: the practical side of things. We recently published a bestselling book which had plenty of checklists and flow charts to appeal to the man. We have a chart showing the financial benefits of breast-feeding and another showing what foods you d have to eat to get the nutrition benefits of just one feed of breast-milk.

We re also a little bit naughty – in Indonesia it s taboo to show a breast or a nipple so we try and break down that barrier. We tell people how we re not just a fan of breastfeeding, we re a really fan of the container of the breast milk – we like it s casing! We need as a country to get past taboos and be able to talk about this: to talk about nipples, breast massages and how sex can help increase your wife s level of oxcytocin, which is essential for breast-feeding.

Aside from our book we re trying to promote breastfeeding on social media; it s free and it s the only tool we have, in contrast to those companies who have a huge media spend available to them.

There have been some positive changes in Indonesia: the government now stresses that babies should be left with their mothers after birth and that breast-feeding should be encouraged as soon as possible. But, there s still a huge way to go – Zoe Williams recent expose of formula milk companies activities in Indonesia rather depressingly reinforced that.

It s a fight we must carry on though, and it s really not just one for mums either. Us dads can have a hugely powerful role to play, as can anyone with a voice online. We ll never have the big bucks of the companies but as social media and mobile internet becomes even wider spread in developing countries it will give us the power to use our collective voices online to ensure that it s not just the corporate marketing campaign that people see.

sumber artikel: http://www.huffingtonpost.co.uk/shafiq-pontoh/breastfeeding-dad-indonesia_b_2790968.html

 

]]>
http://www.ayahasi.org/breast-feeding-dads-why-were-mobilising-an-army-in-indonesia.html/feed 0
Ayah ASI, Kelompok Ayah Pendukung Ibu Menyusui http://www.ayahasi.org/ayah-asi-kelompok-ayah-pendukung-ibu-menyusui.html http://www.ayahasi.org/ayah-asi-kelompok-ayah-pendukung-ibu-menyusui.html#respond Mon, 20 Jun 2016 06:21:47 +0000 http://www.ayahasi.org/?p=559 Liputan6.com, Jakarta Ayah ASI Indonesia adalah sekelompok ayah yang memiliki satu tujuan, mendukung pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif pada sang buah hati. Tanpa bermaksud menggurui, sekelompok ayah ini hanya ingin berbagi tentang bagaimana cara agar sang istri mampu mengeluarkan ASI semaksimal mungkin.

“Awal mula kepikiran membentuk Ayah ASI Indonesia karena kebutuhan. Waktu memiliki anak, ingin support ASI eksklusif, cuma tidak mengetahui caranya,” kata Pencetus Ayah ASI Indonesia, Shafiq Pontoh kepada Health Liputan6.com saat Perayaan Selebrasi AIMI ke-7 di Taman Bunga, Taman Mini Indonesia (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (19/4/2014).

Sempat mengalami hal tidak mengenakan di rumah sakit, membuat Shafiq mencari sendiri informasi di internet dan bertanya di jejaring sosial Twitter. Beruntung, kala itu presenter Najwa Shihab membaca kicauan Shafiq dan mengirimkan sebuah pesan untuknya.

“Karena tidak tahu itu, saya kecolongan. Rumah sakit mencekokin anak saya suffor tanpa sepengetahuan kami. Akhirnya, cari informasi di internet, ada milis ASI for Baby, mulailah cari-cari di situ. Sampai pada akhirnya, saya bertanya di Twitter dan di DM Najwa Shihab, dikenalinlah sama Nia Umar, konselor di AIMI,” kata Shafiq menambahkan.

Setelah bertemu dan mengobrol panjang lebar, serta mengetahui tentang manfaat dukungan suami terhadap ASI ke Nia, terlintas di benak Shafiq untuk membagikan informasi ini ke masyarakat luas. Hanya saja, timbul pertanyaan dari dalam hatinya, apakah dia saja yang mengalami hal ini atau masih banyak di luar sana yang memiliki pengalaman sama seperti dirinya.

“Tanya di Twitter, ternyata banyak juga. Cuma enggak tahu kalau mereka juga bisa berkontribusi,” kata Shafiq.

“Akhirnya, setelah dikumpulin, terkumpul delapan orang sebagai mimin pertama Ayah ASI Indonesia,” kata dia menambahkan.

Dari kedelapan ‘orang penting’ di Ayah ASI Indonesia, terdapat dua orang tokoh masyarakat tergabung di dalamnya. Yaitu, pelawak sekaligus penyiar radio, Sogi Indraduhaja dan Comic (Stand Up Comic), Ernest.

“Dua orang sebetulnya memang sengaja direkrut dan kebetulan pas. Waktu ngumpul pertama kali, Ernest itu belum public figure. Setelah diskusi, kayaknya kami memang butuh satu orang artis. Tercetus dari mulut Ernest nama Sogi, karena Sogi pendukung ASI juga. Secara kebetulan juga, Sogi adalah teman SMP saya,” kata Shafiq menerangkan.

Selain Sogi dan Ernest, ada sederet nama lain yang tergabung di dalamnya, dan berasal dari disiplin ilmu yang berbeda. Dipa (Manajer Artis dan Orang yang Paham Branding), Pandu (Lawyer yang mengerti legal), Rachmat (Orang yang paling tahu soal AS), Adit yang dianggap HRD Ayah ASI Indonesia, dan Shafiq sendiri yang paham strategis.

“Setelah terbentuk, kita coba cara untuk menyebarkan informasinya ke penggiat Ayah ASI di kota lain,” kata Shafiq.

Memang, di dalam kubuh Ayah ASI Indonesia, hanya Rachmat yang memiliki sertifikat tentang konselor ASI. Namun, bukan berarti sekumpulan ayah ini tidak berjejaring dengan pihak lain. “Kami berjejaring dengan AIMI. Karena AIMI secara jelas sudah tersertifikasi dan memiliki banyak dokter. Sehingga, ketika ada pertanyaan yang datang ke kami, dapat kami tanyakan langsung ke AIMI,” kata dia menjelaskan.

Shafiq dan tim paham benar bahwa mereka bukanlah orang yang ahli dalam bidang ini. Maka itu, tiap kali berkumpul atau ditanya tentang hal ini, mereka memilih untuk membagikan pengalaman masing-masing. Karena dengan berbagi, akan membuat para ayah ini nyaman dan tidak menggurrui.

Sebenarnya, banyak cara yang dapat dilakukan para ayah untuk mendukung sang istri menghasilkan ASI yang berlimpah. Sayang, informasi ini belum tersebar luas, malah lebih banyak mitos yang berkembang di luar sana.

Menurut Shafiq, membuat istri nyaman adalah kunci keberhasilan ASI akan keluar dan dapat dinikmati si buah hati. Shafiq sendiri memiliki cara untuk membuat nyaman sang istri. Yaitu, dengan memberikan kejutan kecil. “Karena, kalau istri senang dan bahagia, ASI akan lancar,” kata Shafiq.

Teman-teman yang lain, kata dia menambahkan, ada yang memberikan pijitan sederhana, membelikan sepatu, dan mengajak pasangan menonton hanya untuk menyenangkan dan membahagiakan hatinya.

“Tapi, salah satu cara efektif biar ASI lancar adalah menyakiskan film-film mengharukan. Sayang, masih sedikit orang mengetahui ini,” kata dia menjelaskan.

Dijelaskan Shafiq, dengan melakukan ini akan memicu hormon oksitosin dalam otak. Layaknya keran, akan terbuka dan mengeluarkan air yang deras.

“Banyak kok trik mendapatkan ASI yang berlimpah. Hanya saja, ini belum tersebar luas. Akhirnya keluar mitos yang meyakini ASI tetap tidak akan keluar. Kalau yakin enggak keluar, maka enggak akan keluar. Biasanya, mitos ini keluar dari para ayah yang memang tidak ingin memberikan support,” kata Shafiq menekankan.

Jika berminat untuk bergabung di Ayah ASI Indonesia, Anda tinggal mengunjungi situs dan follow Twitter di @ID_AyahASI. Atau Anda dapat menjadi relawan di setiap acara yang dibuat oleh Ayah ASI Indonesia.

 

sumber artikel: http://health.liputan6.com/read/2039135/ayah-asi-kelompok-ayah-pendukung-ibu-menyusui

]]>
http://www.ayahasi.org/ayah-asi-kelompok-ayah-pendukung-ibu-menyusui.html/feed 0
Cara Ayah ASI Mendukung Ibu Menyusui http://www.ayahasi.org/cara-ayah-asi-mendukung-ibu-menyusui.html http://www.ayahasi.org/cara-ayah-asi-mendukung-ibu-menyusui.html#respond Mon, 20 Jun 2016 06:16:04 +0000 http://www.ayahasi.org/?p=556

KOMPAS.com – Kaum pria punya gaya komunikasi berbeda termasuk dalam berbahasa. Bahasa yang serba gamblang, praktis, apa adanya membuat para pria lebih nyaman berbincang juga berdiskusi dengan kalangannya. Termasuk ketika membicarakan peran sebagai ayah, mendukung istri menyusui, menjadi bagian dari proses pemberian ASIkepada si buah hati.

Ayah ASI merupakan salah satu komunitas pria di dunia digital melalui media sosial Twitter untuk memenuhi kebutuhan informasi akan peran ayah juga suami ini. Bermula dari akun Twitter @ID_AyahASI yang hadir sejak 27 September 2011, para pria punya wadah untuk berbagi pengalaman juga pengetahuan seputar ASI dan bagaimana menjalankan peran terbaik sebagai suami dan ayah.

Gaya bahasa pria yang gamblang membuat para ayah usia 25-40 merasa lebih nyaman berbagi informasi di komunitasnya melalui Twitter. Baik akun Twitter @ID_AyahASI maupun di jejaring media sosial skala lokal.

Administrator akun Twitter Ayah ASI Jakarta, Fauzi Lesmana, mengatakan komunikasi antar pria membuat para ayah anggota komunitas ini lebih mudah menyerap informasi. Juga memudahkan anggota komunitas untuk mengajak pria baik ayah juga calon ayah untuk lebih peduli terhadap keluarga. Memberikan perhatian yang tepat pada istri yang sedang hamil, akan melahirkan, juga perawatan bayi pascabersalin dan masa menyusui yang membutuhkan kekompakan suami dan istri untuk memberikan perhatian penuh kepada bayi.

Fauzi menyebutkan komunitas Ayah ASI ini telah berkembang di tingkat lokal. Sebelum Ayah ASI Jakarta terbentuk, komunitas serupa telah berkembang di Medan, Bandung. “Saat ini Ayah ASI Malang, Yogyakarta, Semarang, Bali dan daerah lain juga sudah terbentuk,” jelasnya kepada Kompas Female di sela kegiatan Social Media Fest 2012 di Gelora Bung Karno Jakarta, Jumat (12/10/2012).

Media sosial Twitter, bagi komunitas ini, menjadi wadah paling tepat dan sesuai karakter pria. Praktis, interaktif dengan waktu yang cepat, sesuai gaya pria dalam berkomunikasi yang langsung pada intinya. Benar saja, informasi seputar ASI dan komunikasi melalui media sosial ini menjadi langkah tepat bagi pria yang peduli keluarga. Akun ID_AyahASI sendiri telah memiliki lebih dari 40.000 followers dalam satu tahun.

Di komunitas Ayah ASI Jakarta sendiri, Fauzi mengatakan meski menyasar kalangan pria, akun Twitter komunitas ini banyak di-follow kaum perempuan. “Jumlah followers pria hanya sekitar 25 persen, sisanya perempuan yang share link ke suaminya untuk ikut serta,” tutur bapak dua anak yang turut mengembangkan komunitas Ayah ASI Jakarta sejak 16 Agustus 2012.

Dukungan ayah
ASI bukan semata urusan ibu dan 50 persen keberhasilan ASI disumbangkan oleh dukungan ayah. Komunitas Ayah ASI mengakui hal ini, dan menyadari pentingnya peran ayah dalam proses pemberian ASI termasuk sejak kehamilan ibu, melahirkan dan pengasuhan anak. Banyak ayah yang sebenarnya peduli namun tak tahu cara menunjukkannya atau melakukan tindakan apa untuk memberikan dukungan tepat kepada istri.

“Bagaimana cara ayah mendukung ASI, peran suami dalam merawat anak, merupakan informasi yang dibutuhkan para ayah. Pria bukannya tidak peduli, tapi tidak tahu bagaimana caranya,” tuturnya.

Salah satu administator Ayah ASI Jakarta, Gamma Quieto, menambahkan kesadaran inilah yang dicoba dibangun komunitas. “Kesadaran ini bisa dibangun lebih dini, sejak usia awal 20-an. Anggota Ayah ASI Jakarta sendiri ada yang belum menikah,” jelas Gamma, bapak satu anak berprofesi sebagai konsultan ini.

Komunitas Ayah ASI fokus pada pemberian dukungan tepat kepada ibu menyusui. Namun, dinamika komunikasi via Twitter pun berkembang. Kebutuhan informasi akan makanan pendamping ASI (MPASI), pengasuhan anak, bentuk dukungan tepat kepada istri sepanjang masa kehamilan hingga menyusui, juga makanan sehat dengan gizi seimbang, juga tinggi di kalangan pria.

Pria pun leluasa berbagi pengalaman menjadi ayah dengan bahasanya melalui komunitas ini. Berbagi informasi menjadi penting bagi para ayah, karena tak mudah menjadi orangtua muda era kekinian, dengan perubahan zaman dan pola asuh yang tak bisa lagi konvensional.

Menurut Gamma, dengan peran dan dukungan suami, pasangan muda bisa lebih kompak dalam memberikan pengasuhan termasuk untuk menghadapi intervensi orangtua dan mertua. Dengan mengalirnya berbagai informasi penting mengenai peran ayah di media sosial ini, para pria juga bisa belajar dari pengalaman unik pria lainnya. Termasuk menemukan cara yang lebih baik dalam memberikan dukungan.

“Bisa jadi cara yang selama ini dilakukan salah. Ketika berbagi informasi, kita jadi bisa memperbaiki diri, untuk memberikan dukungan yang tepat belajar dari pengalaman unik anggota komunitas lainnya, menjadi lebih tercerahkan,” tutur Gamma.

Fauzi menambahkan pentingnya menambah pengetahuan seputar ASI dan menjalankan peran sebagai Ayah ASI secara tepat. “Dengan mendapatkan informasi yang tepat, laki-laki yang emosionalnya cenderung lebih stabil bisa berperan lebih baik saat mendampingi istri yang sedang hamil hingga menyusui. Dengan mendapatkan pencerahan dari berbagi pengalaman dan informasi, para suami tidak lagi kebingungan dan bisa mendukung istri jauh lebih baik lagi,” jelasnya.

Berbagi informasi yang mencerahkan para pria menjadi langkah awal komunitas ini. Selanjutnya, para Ayah ASI ini pun menyusun langkah lanjutan dengan mengajak pria lebih peduli ASI melalui kegiatan pembuatan Peta Ruang Menyusui. Yakni memetakan area menyusui,nursing room, changing room di semua ruang publik di Jakarta. Pilot project Ayah ASI Jakarta ini ditargetkan tuntas di penghujung 2012 ini.

“Setiap followers bisa berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.Volunteers bisa memotret area menyusui. Tujuannya bagi yang sudah menyediakan bisa lebih aware, supaya bisa lebih memenuhi standar dan teguran untuk yang belum menyediakan ruangan menyusui baik di perkantoran atau mal, tempat-tempat publik,” jelas Gamma.

Kegiatan ini menjadi bentuk dukungan Ayah ASI terhadap ibu menyusui terkait ruang publik. Tentunya untuk melengkapi dukungan di ranah privat yang menjadi komitmen utama para Ayah ASI.

 

Editor : wawa

sumber artikel: http://female.kompas.com/read/2012/10/13/11402775/cara.ayah.asi.mendukung.ibu.menyusui

]]>
http://www.ayahasi.org/cara-ayah-asi-mendukung-ibu-menyusui.html/feed 0
Menyusui Ala Ayah ASI http://www.ayahasi.org/menyusui-ala-ayah-asi.html http://www.ayahasi.org/menyusui-ala-ayah-asi.html#respond Mon, 20 Jun 2016 01:18:16 +0000 http://www.ayahasi.org/?p=551 640xauto-perhatian-ayah-bikin-anak-luwes-bergaul-120612r-1

gambar diambil dari sini

Tidak ada rumus baku untuk sukses menjadi Ayah ASI. Setiap ayah punya gaya masing-masing dan setiap pasangan memiliki ‘bahasa’ yang khas. Para Ayah ASI, berbagi kepada pembaca Ayahbunda bagaimana cara mereka menyukseskan pemberian ASI untuk buah hati tercinta.

Menjadi ‘cheerleader’ untuk istri saat menyusui. Ini akan membuatnya lebih rileks dan ASI pun menjadi lebih lancar. Saat ibu senang, hormon prolaktin dan oksitosin yang penting untuk produksi ASI akan bekerja lebih baik. Berikan pesan singkat berisi kata-kata mesra di siang hari, kejutan kecil ataupun sekadar memandikan anak tanpa disuruh. Semua itu bisa memberikan ibu kebahagiaan tersendiri.

Menjadi juru bicara dan pelindung. Disinilah ayah berperan menjadi ‘benteng’ pertahanan bunda dari ‘serangan’ mitos-mitos. Carilah informasi sebanyak-banyaknya kepada ahlinya. Bergabunglah dengan kelompok pendukung ASI. Jika istri bekerja, jangan sungkan bicara dengan atasannya agar istri diberikan waktu, kalau perlu tempat khusus, untuk memompa ASI. Biarkan semua orang tahu istri kita sedang menyusui.
Menjadi manajer yang baik. Proses menyusui akan lebih mudah dengan mengatur persediaan ASI perahan (ASIP). Anda bisa memulai mengaturnya dengan membuat daftar apa saja yang diperlukan untuk menyimpan ASI, diantaranya mencari stok botol dan memberikan label tanggal ASI masuk freezer. Temani istri saat sedang memompa di malam hari dan selalu ingatkan istri untuk memompa ASI. Ayah adalah manajer logistik ASIP.
Menjadi orangtua yang sebenarnya. Tugas ayah bukan sekedar pengambil keputusan atau pencari nafkah. Namun juga harus terlibat total dalam urusan rumah tangga. Mulai dari mengurusi anak hingga belanja keperluan keluarga. Bayangkan ibu menyusui harus bertahan kurang lebih 15 menit di posisi yang sama selama 2-3 jam sekali. Proses yang cukup melelahkan ini butuh seorang super ayah yang ikut intervensi urusan rumah.
Be a Google! Jangan hanya istri yang cari tahu informasi tentang ASI. Alangkah baiknya jika Ayah juga bisa menjadi sumber informasi. Buatlah daftar pertanyaan dari istri di pagi hari sebelum berangkat ke kantor, dan ketika pulang ke rumah, sudah siap dengan segudang jawaban. Diskusikan dengan istri jawaban-jawaban itu.
Tidak egois. Prioritas seorang suami adalah keluarganya, bukan pekerjaan apalagi hobi. Dan tugas suami tidak selesai ketika sejumlah uang ditransfer ke rekening istri. Tugas seorang ayah juga tidak selesai hanya ketika membelikan mainan pada anak atau mengajaknya jalan-jalan ke mall. Jadilah bagian dari keluarga dengan seutuhnya, bukan sekadar ATM berjalan.
Bijaksana. Tahan emosi saat menghadapi lingkungan yang terlalu fleksibel soal ASI. Cari dan beri pemahaman dengan cara yang tepat, santai dan bijaksana pada orangtua, mertua, dll. Tempelkan kertas-kertas berisi informasi tentang ASI di kulkas, jadi secara tidak langsung mereka juga bisa membacanya. Letakkan buku-buku tentang ASI di tempat yang mudah terlihat agar mereka bisa ikut membacanya.
Beri motivasi, bukan paksaan. Kadang istri bisa menjadi emosional, merasa lelah, lalu ingin berhenti menyusui. Dalam kondisi seperti ini, jadilah pendengar yang baik, pahami kesulitan istri, ajak istirahat sejenak dan nikmati waktu romantis berdua. Terus yakinkan ia bahwa ASI adalah yang terbaik untuk buah hati. Bisikan kata-kata lembut seperti “Baby, don’t give up. I’m with you” sambil tersenyum.
Lepaskan beban. Jangan menjadikan dukungan terhadap proses menyusui sebagai beban. Mendampingi istri menyusui adalah bagian dari kewajiban alamiah seorang suami sekaligus tanggung jawab ayah pada anaknya. Belajarlah bersama-sama dengan istri.
Berbagi. Jangan menutup diri dan buka jaringan pergaulan serta informasi seluas-luasnya. Sharing membuat Anda semakin memahami persoalan, dan belajar lebih banyak tentang suatu hal dengan dimensi dan perspektif beragam. Semakin banyak informasi, semakin memudahkan Anda mengambil langkah yang tepat. (me)

sumber: http://www.ayahbunda.co.id/bayi-tips/menyusui-ala-ayah-asi-

 

]]>
http://www.ayahasi.org/menyusui-ala-ayah-asi.html/feed 0
Menyusui Ketika Puasa http://www.ayahasi.org/menyusui-ketika-puasa.html http://www.ayahasi.org/menyusui-ketika-puasa.html#respond Thu, 09 Jun 2016 15:06:52 +0000 http://www.ayahasi.org/?p=530 Memasuki bulan Ramadhan, sering timbul pertanyaan dari para ibu menyusui. Bolehkah saya puasa saat menyusui?, Apakah ASI saya akan berkurang saat puasa?, Apa yang harus saya konsumsi saat sahur dan berbuka agar ASI saya tetap banyak?Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mari kita ingat kembali cara kerja tubuh kita dalam memproduksi ASI.

Saat bayi menyusu, syaraf-syaraf di permukaan payudara memberi rangsangan sensoris ke Hipotalamus (kelenjar pada otak) untuk memproduksi hormon Prolaktin dan hormon Oksitosin. Dalam payudara, hormon Prolaktin memberi perintah agar sel-sel dalam payudara memproduksi ASI. Sementara hormon Oksitosin menyebabkan otot-otot payudara berkontraksi, dan memompa ASI keluar dari puting.

Banyaknya ASI yang diproduksi dan dikeluarkan dari payudara, sesungguhnya diatur oleh isapan bayi. Makin sering bayi mengisap, makin sering ASI dikeluarkan dan diproduksi di payudara. Inilah yang dinamakan supply and demand.

Namun tidak dapat dipungkiri, saat puasa, cairan tubuh kita berkurang hingga 2-3 %. Pada keadaan normal, ada mekanisme rasa haus yang mencegah kita dari kekurangan cairan. Namun, saat berpuasa, secara otomatis otak mengatur agar pengeluaran cairan tubuh melalui air seni dan keringat dihemat.

Tentu timbul pertanyaan, Apakah penghematan tetap berlaku saat menyusui sambil berpuasa? Bagaimana dengan kandungan ASInya ketika berpuasa makan?. Pada saat Ramadhan, kita rata-rata berpuasa 14 jam. Tubuh kita masih dapat mengkompensasi kekurangannya selama 14 jam tersebut, pada saat berbuka. Namun, sangat dianjurkan pada para ibu yang masih menyusui eksklusif (usia bayi kurang dari 6 bulan) untuk menunda berpuasa, bila dirasa memberatkan bagi dirinya untuk tetap beraktifitas dengan normal, maupun bila tampak perubahan perilaku bayinya dengan menyusu lebih sering. Agama Islam pun memberi keringanan bagi para ibu menyusui untuk tidak berpuasa selama Ramadhan. Sebab pada masa menyusui eksklusif, ASI adalah satu-satunya asupan cairan dan gizi bagi bayi. Pada masa ini, metabolisme tubuh ibu bekerja dengan giat untuk terus menerus memproduksi ASI dengan komposisi yang lengkap.

Walaupun ibu tidak makan selama 14 jam, komposisi ASInya tidak akan berubah atau berkurang kualitasnya dibandingkan saat tidak berpuasa. Sebab, tubuh akan melakukan mekanisme kompensasi dengan mengambil cadangan zat-zat gizi, yaitu energi, lemak dan protein serta vitamin dan mineral, dari simpanan tubuh. Begitu ibu berbuka, tubuh akan mengganti cadangan zat-zat gizi tadi, sehingga ibu tidak akan kekurangan zat gizi untuk memenuhi aktifitas serta mempertahankan kesehatan tubuhnya. Komposisi ASI baru akan berkurang pada ibu yang menderita kurang gizi berat, sebab tidak ada lagi cadangan zat gizi yang dapat memasok kebutuhan produksi ASI yang lengkap.

Berarti, bila ibu menyusui makan dalam porsi sedikit lebih banyak dari porsi normalnya, dapat dipastikan bahwa cadangan zat gizi ibu tidak akan berkurang. Tidak perlu sampai menambah satu kali porsi makan ekstra tiap hari.

Jadi, bila ibu menyusui tetap memutuskan untuk menjalankan puasa Ramadhan, mungkin tips berikut dapat bermanfaat:

  • Makanlah saat sahur dan berbuka dalam porsi secukupnya, pastikan ibu mengkonsumsi cairan yang cukup, walau tidak perlu berlebih, karena bila berlebihan, toh tubuh kita akan membuang kelebihan tersebut.
  • Ibu hendaknya tetap tenang beribadah dan percaya diri terus menyusui, jangan merasa khawatir ASInya akan berkurang, sebab rasa cemas tersebut justru akan menghalangi kerja hormon Oksitosin mengeluarkan ASI dari payudara, sehingga akan nampak seolah-olah ASI ibu berkurang. Ingatlah bahwa menyusui pun juga ibadah.
  • Bila ibu memiliki aktifitas yang cukup tinggi selama Ramadhan, mungkin perlu dipertimbangkan untuk tidak berpuasa bila si kecil masih menyusu eksklusif, sebab dalam agama Islam pun ada keringanan bagi ibu yang menyusui.
  • Yakinlah selalu, puasa maupun tidak, bahwa ibu telah memberikan yang terbaik bagi si kecil, yaitu semua gizi, zat kekebalan, enzim dan hormon yang diperlukan si kecil untuk tumbuh sehat dan cerdas melalui ASI, serta dasar menjadi anak sholeh-sholehah, karena pada saat bayi menyusu, ia juga belajar mengembangkan naluri, merasakan kasih sayang dan ikatan batin dengan ibunya, suatu hak eksklusif yang tidak akan bisa digantikan!

Penulis:
dr. Dian Nurcahyati, M.Sc, IBCLC

sumber artikel:http://menyusui.info/menyusui/tips/menyusui-ketika-puasa/
sumber gambar dari sini
]]>
http://www.ayahasi.org/menyusui-ketika-puasa.html/feed 0
Donor ASI; Kapan dan Bagaimana? http://www.ayahasi.org/donor-asi-kapan-dan-bagaimana.html http://www.ayahasi.org/donor-asi-kapan-dan-bagaimana.html#respond Sat, 21 May 2016 07:11:11 +0000 http://www.ayahasi.org/?p=487 breast-milk-jpg

gambar dari sini

Sering kali kita membaca di milis dan media sosial adanya permintaan ASI donor karena beberapa sebab, misalnya: ibu meninggal, ibu sakit, bayi masuk NICU, bayi masuk inkubator, bayi terlantar, persediaan ASI perah habis, ASI belum keluar, persiapan menjelang melahirkan ataupun tidak mencantumkan alasan kenapa membutuhkan ASI donor.

Bagaimana sih posisi ASI donor dalam dunia perASIan? Apakah aman dan disarankan? Kapan sebaiknya memakai ASI donor? Yuk kita bahas bersamasama.

Pada dasarnya bayi baru lahir sehat dari ibu yang sehat bisa mendapat ASI secara penuh tanpa perlu tambahan asalkan mendapat kesempatan menjalani Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Rawat Gabung penuh 24 jam bersama ibu, serta bayi menyusu tanpa jadwal dengan posisi dan pelekatan yang efektif.

Lalu kondisi apa saja yang membuat bayi mungkin perlu mendapatkan suplementasi baik berupa tambahan atau pengganti selain menyusu? WHO dan UNICEF mengeluarkan dokumen Alasan Medis Menggunakan Pengganti ASI yang telah dirangkum sebagai berikut:

Indikasi pada Bayi yang Memerlukan Pengganti ASI:

  • Inborn errors of metabolismatau kelainan metabolisme bawaan (galaktosemia, fenilkotenouria, penyakit urin sirup mapel)

Indikasi pada Bayi yang Mungkin Memerlukan Suplementasi:

  • Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (kurang dari 1500 gram) atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu
  • Bayi berisiko hipoglikemia karena gangguan adaptasi metabolik atau peningkatan kebutuhan glukosa (Kecil Masa Kehamilan, prematur, mengalami stres hipoksik/iskemik, bayi sakit, bayi dengan ibu yang menderita diabetes) jika kadar gula darahnya gagal merespon pemberian ASI
  • Bayi dengan kehilangan cairan akut (misal karena fototerapi untuk jaundice) dan menyusui serta memerah ASI belum bisa mengimbangi kebutuhan cairan
  • Turunnya berat badan bayi berkisar 7 10% setelah hari ke 3 5 karena terlambatnya laktogenesis II
  • BAB bayi masih berupa mekonium pada hari ke 5 pasca persalinan

Indikasi pada Ibu:

  • Ibu dengan HIV + (keputusan pemberian minum pada bayi sebaiknya melalui proses konseling saat ibu hamil)
  • Ibu sakit berat (psikosis, sepsis, eklamsia atau mengalami renjatan/syok), infeksi virus Herpes Simpleks tipe 1 dengan lesi di payudara, infeksi varicella zoster pada ibu dalam kurun waktu 5 hari sebelum dan 2 hari sesudah melahirkan
  • Ibu mendapat sitostatika, radioaktif tertentu seperti Iodine 131, obat obatan antitiroid selain Propylthiouracil
  • Ibu pengguna obat terlarang
  • Ibu mengalami kelainan payudara, riwayat operasi pada payudara, atau jaringan payudara tidak berkembang

Kita lihat dari kedua tabel di atas maka sebagian besar kondisi di atas terjadi di harihari awal kelahiran. Dengan mempertimbangkan keuntungan dan risikonya, keputusan menggunakan suplementasi harusnya berdasarkan penilaian dan evaluasi dari konselor laktasi, dokter anak dan dokter kebidanan mengenai proses menyusui yang meliputi; observasi saat menyusu langsung pada payudara, evaluasi pasokan ASI, riwayat persalinan, evaluasi posisi, pelekatan, kekuatan hisap, kemampuan menelan, dan penilaian kondisi bayi secara menyeluruh. Kondisi pada ibu dan bayi akan menentukan apakah suplementasi ini bersifat sementara atau menetap.Perlu diingat juga, tujuan akhir dari suplementasi ini adalah untuk mempertahankan menyusui.

Hierarki Suplementasi

  • ASI/Kolostrum perah segar dari ibu
  • ASI perah ibu didinginkan
  • ASI perah ibu pernah dibekukan dan sudah dicairkan
  • ASI perah ibu sendiri yang difortifikasi (bila perlu) untuk bayi prematur
  • ASI donor dari Bank ASI dan dipasteurisasi
  • Formula bayi hipoalergenik
  • Formula bayi elemental
  • Formula berbasis susu sapi
  • Formula berbasis soya

Dari tabel di atas serta tujuan akhir suplementasi bisa kita lihat utamanya adalah memaksimalkan produksi ASI ibu baik dalam menyusu langsung, ASI perah segar ataupun sudah dibekukan. Di sini peranan seorang konselor laktasi sangat penting untuk membantu ibu mempertahankan atau bahkan meningkatkan produksi ASInya. Jika dirasa belum cukup, barulah dicarikan tambahan yang bisa berupa ASI donor yang sudah dipasteurisasi ataupun formula bayi, yang diberikan sedemikian rupa sehingga tetap menjaga dan mempertahankan keberlangsungan proses menyusui ibu dan bayi.

ASI Donor di Indonesia

Dalam hierarki suplementasi, ASI donor dari bank ASI dan sudah dipasteurisasi menjadi urutan berikutnya setelah ASI dari ibu si bayi. Hanya saja, di Indonesia tidak ada Bank ASI yang melakukan skrining terhadap pendonor ASI serta kultur dan pasteurisasi terhadap ASI donor.

Lalu bagaimana kita menyikapinya? Meskipun ASI memang yang terbaik bagi bayi, kita tidak bisa menutup mata terhadap kemungkinan ASI terpengaruh dengan penyakit yang diderita atau gaya hidup pendonor ASI (infeksi HIV, Hepatitis B dan C, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, bertato ataubody piercing). Apalagi sebagian besar penerima ASI donor adalah bayi baru lahir, bayi prematur atau bahkan bayi sakit.

Ada baiknya bagi ibu yang akan mendonorkan ASInya bagi bayi lain menyeleksi dirinya sendiri dengan hal-hal sebagai berikut:

Tidak Disarankan Mendonorkan ASI:

  • Menerima donor darah atau produk darah lainnya dalam 12 bulan terakhir
  • Menerima transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhir
  • Minum alkohol secara rutin sebanyak 2 ounces atau lebih dalam periode 24 jam
  • Pengguna rutin obat-obatan Over the Counter (aspirin, acetaminophen, dll), pengobatan sistemik lainnya (pengguna kontrasepsi atau hormon pengganti tertentu masih dimungkinkan)
  • Pengguna vitamin megadosis atau obat-obatan herbal
  • Pengguna produk tembakau
  • Memakai implan silikon pada payudara
  • Vegetarian total yang tidak memakai suplementasi vitamin B12
  • Penyalah guna obat-obatan terlarang
  • Riwayat Hepatitis, gangguan sistemik lainnya atau infeksi kronis (contohnya: HIV, HTLV, sifilis, CMV pada bayi prematur)
  • Beresiko HIV (pasangan HIV positif, mempunyai tato/body piercing)

Disarankan memeriksakan dirinya dan terbukti negatif secara serologis terhadap: HIV-1 dan HIV-2, HTLV-I dan HTLV-II, Hepatitis B, Hepatitis C, dan sifilis. Pemeriksaan ini juga berguna jika dilakukan setiap ibu yang hamil untuk mencegah penularan penyakit dari ibu ke bayi. Pemeriksaan dan kriteria donor di atas juga perlu diulangi setiap kehamilan atau persalinan baru.

Sedangkan bagi orang tua yang memutuskan menerima ASI donor (tanpa melalui Bank ASI) ada baiknya mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:

  • Bagaimana kondisi kesehatan ibu/pendonor? → pola makan terkait religi/keyakinan
  • Apakah uji serologis ibu terhadap HIV, Hepatitis B, HTLV negatif?
  • Apakah ASI tidak tercemar obat, nikotin, alkohol, dsb?
  • Apakah ASI tidak tercampur air, bahan/zat/nutrisi lain?
  • Apakah ASI diperah dan disimpan secara higienis dan tidak terkontaminasi?
  • Apakah jangka waktu penyimpanan dan tempat penyimpanannya sesuai?
  • Bagaimana kondisi bayi ibu/pendonor? → usia bayi pendonor <1 th , pernah menderita jaundice saat baru lahir?

Menyiapkan ASI Donor

Jika pada akhirnya diputuskan menggunakan ASI donor yang belum dipasteurisasi, ada 3 teknik perlakuan terhadap ASI yang bisa dilakukan yang biasa mengurangi penularan penyakit (terutama HIV) melalui ASI.

1. Pasteurisasi Holder

ASI dipanaskan dalam wadah kaca tertutup di suhu 62,5˚C selama 30 menit. Biasanya dilakukan di Bank ASI karena membutuhkan pengukur suhu dan pengukur waktu.

2. Teknik Flash Heating

ASI sebanyak 50 ml ditaruh dalam botol kaca/botol selai ukuran sktr 450 ml terbuka di dalam panci alumunium berukuran 1 L berisi 450 ml air. Kemudian panci dipanaskan di atas kompor sampai air mendidih, matikan, kemudian botol kaca berisi ASI diangkat dan didiamkan sampai suhunya siap untuk diminum bayi.

3. Pasteurisasi Pretoria

Panaskan air sebanyak 450 ml di panci alumunium berukuran 1 L sampai mendidih. Matikan kompor. Letakkan botol kaca terbuka yang berisi ASI sebanyak 50ml di dalam panci selama 20 menit. Kemudian angkat dan diamkan sampai suhu ASI siap diminum bayi.

Kalau kita lihat dari 3 teknik tadi, yang paling mungkin dilakukan adalah teknik nomor 2 dan 3. Manapun, pilih yang paling nyaman bagi ibu dan keluarga. Jika donor ASI dilakukan karena bayi sakit di Rumah Sakit, ingatkan perawat untuk melakukan pemanasan ini sebelum memberikan ASI donor kepada bayi anda.

Semoga bisa menjadi pertimbangan bagi ibu yang akan menerima atau mendonorkan ASI. Salam ASI!

Penulis: dr Astri Pramarini

Referensi Donor ASI

  • Walker, M. (2011) Breastfeeding Management for the Clinician: using the evidence. 2nd ed. Sudburry, MA. Jones and Bartlett
  • Lawrence, RA. (2011) Breastfeeding: A Guide for the Medical Profession. 7th ed. Maryland Heights, MI. Mosby
  • ABM Protocol #3. Hospital Guidelines for the Use of Supplementary Feedings in the Healthy Term Breastfed Neonate. (2009) Revised Edition.www.bfmed.org
  • Israel-Ballard, K., et al. (2008) Flash-heated and Pretoria Pasteurized destroys HIV in breast milk & Preserves Nutrients! Advanced Biotech.http://www.advancedbiotech.in/51%20Flash%20heated.pdfaccessed January 8, 2012

sumberartikel:http://aimi-asi.org/donor-asi-kapan-dan-bagaimana/comment-page-4/

]]>
http://www.ayahasi.org/donor-asi-kapan-dan-bagaimana.html/feed 0
Mitos Seputar Menyusui (Episode 2) http://www.ayahasi.org/mitos-seputar-menyusui-episode-2.html http://www.ayahasi.org/mitos-seputar-menyusui-episode-2.html#respond Sat, 21 May 2016 07:04:30 +0000 http://www.ayahasi.org/?p=484 Mitos-mitos lainnya seputar Menyusui:

  1. Seorang ibu yang sedang menyusui harus sangat memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsinya.TIDAK BENAR! Seorang ibu yang menyusui memang sebaiknya mengkonsumsi jenis makanan yang mengadung gizi seimbang, tetapi tidak perlu mengkonsumsi jenis makanan tertentu atau bahkan menghindari beberapa jenis makanan. Seorang ibu yang menyusui tidak perlu minum susu untuk dapat menghasilkan susu. Seorang ibu yang menyusui sebaiknya mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Namun, apabila terdapat riwayat alergi di keluarga, misalnya alergi seafood dan alergi susu sapi, maka ibu menyusui perlu lebih hati-hati dalam mengkonsumsi jenis-jenis makanan tersebut.
  2. Seorang ibu yang sedang menyusui harus banyak makan untuk dapat memproduksi ASI yang cukup.TIDAK BENAR! Seorang ibu mampu memproduksi ASI secara cukup, kecuali apabila seorang ibu masuk ke kategori sangat kurang gizi untuk periode yang cukup lama. Umumnya, bayi akan mendapatkan ASI sesuai dengan kebutuhannya. Banyak ibu yang khawatir apabila ia tidak banyak makan maka akan mempengaruhi produksi ASInya. Sebetulnya tidak perlu kuatir. Banyak / tidaknya makanan yang dikonsumsi ibu tidak berpengaruh terhadap kualitas maupun kuantitas ASI. Ada ibu yang makan lebih banyak selama menyusui, ada yang makan lebih sedikit, dua-duanya sah-sah saja dan tidak mempengaruhi ASI. Seorang ibu boleh saja makan makanan dengan gizi seimbang sesuai dengan seleranya.
  3. Seorang ibu yang sedang menyusui harus minum banyak cairan.TIDAK BENAR! Seorang ibu seharusnya minum sesuai dengan kebutuhan dan rasa hausnya. Ada beberapa ibu-ibu menyusui yang selalu merasa haus ketika sedang menyusui, namun ada juga yang tidak. Jangan terpaku pada ketentuan bahwa harus minum sekian gelas air per hari.
  4. Seorang ibu perokok sebaiknya memang tidak menyusui.TIDAK BENAR! Seorang ibu yang tidak bisa berhenti merokok seharusnya tetap menyusui bayinya. Penelitian telah membuktikan bahwa ASI menurunkan resiko efek sampingan yang secara negatif ditimbulkan oleh asap rokok, seperti penyakit paru-paru pada bayi. Memang akan jauh lebih baik apabila ibu tidak merokok, namun jika ibu tidak bisa berhenti merokok, maka lebih baik ibu merokok dan menyusui daripada ibu merokok tapi memberikan susu formula kepada bayi.
  5. Seorang ibu tidak boleh minum alkohol saat menyusui.Tidak benar! Konsumsi alkohol yang wajar seharusnya tidak dilarang. Seperti halnya dengan sebagian besar obat, alkohol sangat sedikit keluar di dalam susu. Sang ibu dapat mengkonsum sialkohol dan tetap menyusui sebagaimana biasanya. Melarang alkohol adalah cara lain yang tidak perlu dalam membatasi ibu menyusui.
  6. Ibu yang putingnya berdarah tidak boleh menyusui. Tidak benar! Meskipun darah membuat bayi gumoh lebih banyak, dan darah bahkan mungkin muncul dalam buang air besar nya, ini bukan alasan untuk berhenti menyusui bayi. Puting susu yang sakit dan berdarah tidak lebih buruk dari puting susu yang sakit dan tidak berdarah. Rasa sakit yang merupakan masalah ibu, dan ini dapat diatasi. Mintalah batuan. (Lembar Informasi Puting Nyeri dan vasospasme dan Fenomena Raynaud’s). Kadang-kadang ibu mengalami perdarahan dari puting susu yang jelas berasal dari dalam payudara dan tidak biasanya berhubungan dengan nyeri. Hal ini sering terjadi dalam beberapa hari pertama setelah kelahiran dan mengendap dalam beberapa hari. Sang ibu tidak harus berhenti menyusui untuk ini. Jika pendarahan tidak berhenti segera, perlu dicari sumber masalahnya, tapi ibu harus tetap menyusui.
  7. Wanita yang pernah melakukan operasi pembesaran payudara tidak dapat menyusui.Tidak benar! Kebanyakan melakukannya dengan sangat baik. Tidak ada bukti bahwa menyusui dengan implan silikon berbahaya bagi bayi. Kadang-kadang operasi ini dilakukan melalui areola. Wanita dengan pembasaran payudara melalui areola ini sering memiliki masalah dengan pasokan susu, seperti halnya setiap wanita yang melakukan operasi dengan sayatan di sekitar garis areola.
  8. Wanita yang pernah melakukan operasi pengecilan payudara tidak dapat menyusui.Tidakbenar! Operasi pengecilan payudara seringkali tidak menurunkan kemampuan ibu untuk memproduksi ASI, tetapi karena banyak ibu memproduksi ASI lebih dari cukup, beberapa ibu yang memiliki operasi pengecilan payudara kadang-kadang bisa menyusui secara eksklusif. Dalam situasi seperti itu, pemantapan proses menyusui harus dilakukan dengan perhatian khusus dengan prinsip-prinsip yang disebutkan dalam Lembar Informasi Menyusui- Mengawali dengan Benar. Namun, jika ibu tampaknya tidak menghasilkan cukup ASI, dia masih bisa menyusui, dengan alat bantu menyusui (sehingga puting buatan tidak mengganggu menyusui). Lihat Lembar Informasi Alat Bantuan Menyusui.
  9. Bayi prematur perlu belajar untuk menggunakan botol sebelum mereka bisa mulai menyusui. Tidak benar! Bayi prematur akan lebih berkurang stress dengan menyusui daripada menggunakan botol susu. Seorang bayi dengan berat 1200 gram dan bahkan lebih kecil dapat mulai menyusu pada payudara segera setelah ia stabil, meskipun ia belum bisa melekat selama beberapa minggu. Namun, dia sedang belajar dan hal tersebut penting bagi bayi dan ibunya. Sebenarnya, berat badan bayi atau usia kehamilan tidak masalah seperti halnya kesiapan bayi untuk mengisap, sebagaimana ditentukan oleh gerakan bayi mengisap. Tidak ada alasan lagi untuk memberikan botol untuk bayi prematur seperti halnya pada bayi cukup bulan. Bila cairan tambahan benar-benar diperlukan ada cara untuk memberikannya tanpa menggunakan dot.
  10. Bayi dengan bibir sumbing dan / atau celah langit-langit tidak dapat menyusu.Tidak benar! Beberapa melakukannya dengan sangat baik. Bayi dengan bibir sumbing saja bisa menyusu dengan baik. Tapi banyak bayi dengan celah langit-langit memang mengalami kesulitan untuk melekat. Tidak diragukan, bagaimanapun, bahwa jika menyusu bahkan tidak dicoba, bayi tidak akan pernah menyusu. Kemampuan bayi untuk menyusu tidak selalu tergantung pada seberapa parah/besar celah tersebut. Menyusu harus dimulai, sebanyak mungkin, menggunakan prinsip-prinsip menyusui yang tepat. (Lembar Informasi Menyusui-Memulai dengan Benar). Jika botol yang diberikan, hal itu akan melemahkan kemampuan bayi untuk menyusu. Jika bayi perlu diberi minum, tetapi tidak dapat melekat, cangkir bisa dan harus digunakan daripada botol. Memberi minum dengan jari kadang-kadang berhasil pada bayi dengan bibir sumbing / celah langit-langit, tapi tidak selalu (Lihat Lembar Informasi Memberi minum dengan Jari dan Cangkir).
  11. Wanita dengan payudara kecil menghasilkan ASI lebih sedikit dibandingkan dengan payudara besar.Omong kosong!
  12. Menyusui tidak memberikan perlindungan terhadap kehamilan. Tidak benar! Ini memang bukan metode yang handal, tetapi tidak ada metode 100% handal. Pada kenyataannya, menyusui bukan metode buruk untuk menjaga jarak kelahiran anak, dan memberikan perlindungan yang dapat diandalkan terutama selama enam bulan pertama setelah kelahiran. Hal ini hampir sama baiknya dengan pil KB, jika bayi di bawah usia enam bulan, jika ibu menyusui secara eksklusif, dan jika ibu belum mendapat menstruasi normal setelah melahirkan. Setelah enam bulan pertama, perlindungan berkurang, namun masih ada, dan rata-rata, wanita menyusui memasuki tahun kedua kehidupan akan punya bayi setiap dua sampai tiga tahun bahkan tanpa metode kontrasepsi buatan
  13. Ibu menyusui tidak boleh minum pil KB. Tidak benar! Pertanyaannya adalah bukan tentang paparan hormon wanita, yang bayi yang terkena pula melalui menyusui. Bayi hanya mendapat lebih sedikit dari pil. Namun, beberapa wanita yang minum pil, bahkan pil progestin saja, menemukan bahwa produksi ASI berkurang. Pil yang mengandung estrogen lebih mungkin untuk mengurangi produksi ASI. Karena begitu banyak wanita menghasilkan lebih dari cukup, ini kadang-kadang tidak masalah, tapi kadang-kadang tidak bahkan bila produksi ASI berlimpah, dan bayi menjadi rewel dan tidak puas saat menyusu. Bayi bereaksi terhadap kecepatan aliran ASI, bukan apa yang ada “di payudara”, sehingga bahkan suplai ASI yang sangat baik mungkin menyebabkan bayi yang biasa dengan aliran lebih cepat menjadi rewel. Menghentikan penggunaan pil seringkali membuat normal lagi. Jika mungkin, wanita yang sedang menyusui sebaiknya menghindari pil KB, atau setidaknya menunggu sampai bayi mulai MPASI (biasanya sekitar 6 bulan usia). Bahkan pada bayi yang usianya >6 bulan, produksi ASI dapat turun secara signifikan. Jika ibu tetap memutuskan menggunakan pil KB, sebaiknya menggunakan pil progestin saja (tanpa estrogen).
  14. Bayi memerlukan jenis susu lainnya setelah enam bulan. Tidak benar! ASI memberikan semua kebutuhan bayi yang ada di susu lain bahkan lebih banyak lagi. Bayi berusia lebih dari enam bulan harus dimulai makan makanan padat terutama agar mereka belajar bagaimana makan dan sehingga mereka mulai mendapatkan sumber zat besi laini, yang oleh 7-9 bulan, tidak diberikan dalam jumlah yang cukup dari ASI saja. Jadi susu sapi atau formula tidak diperlukan selama bayi menyusui. Namun, jika ibu ingin memberikan ASI setelah 6 bulan, tidak ada alasan bahwa bayi tidak bisa mendapatkan sapi atau susu kambing, selama bayi masih menyusui beberapa kali sehari, dan juga mendapatkan berbagai padat makanan di lebih dari jumlah minimal. Kebanyakan bayi berusia lebih dari enam bulan yang tidak pernah minum susu formula tidak akan menyukainya karena rasanya berbeda.

 

Mitos-mitos Seputar Menyusui, Jack Newman MD, FRCPC, IBCLC, 2009
Revised by Edith Kernerman, IBCLC, 2009

sumber:http://www.breastfeedinginc.ca/content.php?pagename=doc-MB-indo

gambar dari sini

]]>
http://www.ayahasi.org/mitos-seputar-menyusui-episode-2.html/feed 0
Mitos Seputar Menyusui (Episode 1) http://www.ayahasi.org/mitos-seputar-menyusui-episode-1.html http://www.ayahasi.org/mitos-seputar-menyusui-episode-1.html#respond Sat, 21 May 2016 06:57:18 +0000 http://www.ayahasi.org/?p=481 Beberapa mitos menyusui, dan masih beberapa mitos, bahkan masih banyak lagi mitos!!

  1. Kebanyakan wanita tidak bisa menghasilkan ASI yang cukup.TIDAK BENAR! Hampir semua wanita menghasilkan ASI lebih dari cukup, bahkan sering kali timbul permasalahan seputar pasokan ASI yang terlalu berlebihan. Seorang bayi yang kenaikan berat badannya lambat, atau bahkan cenderung mengalami kehilangan berat badan, seringkalibukan disebabkan karena ibunya tidak cukup menghasilkan ASI, tetapi bayi tersebut tidak berhasil untuk mengeluarkan dan minum ASI yang dihasilkan oleh ibunya tersebut. Biasanya, hal ini disebabkan oleh pelekatan yaitu posisi mulut bayi pada payudara ibu yang kurang tepat. Oleh karena itu, sangat penting bagi seorang ibu baru untuk segera, pada hari pertama kelahiran, dipandu untuk melakukan pelekatan secara benar oleh seseorang yang benar-benar mengerti mengenai teknik pelekatan yang tepat.
  2. Normal kok kalau payudara/puting terasa sakit pada saat kita sedang menyusui.TIDAK BENAR! Walaupun bukan sesuatu hal yang aneh jika pada hari-hari pertama menyusui seorang ibu akan merasa sedikit kurang nyaman pada payudaranya, tapi kondisi ini seharusnya hanya berlangsung selama beberapa hari saja, dan tidak boleh menjadi sedemikian parahnya sehingga seorang ibu menjadi takut untuk menyusui bayinya. Rasa sakit yang amat sangat pada puting ketika sedang menyusui menandakan bahwa bayi belum sempurna pelekatannya. Sakit atau lecet pada puting yang berlangsung selama lebih dari 3-4 hari tidak boleh diabaikan, harus dicari tahu penyebabnya. Membatasi waktu menyusu pada payudara juga bukan merupakan cara yang tepat untuk mencegah timbulnya puting lecet. Usahakan agar tindakan mengistirahatkan payudara dan puting sakit sebagai solusi yang terakhir.
  3. 3-4 hari setelah kelahiran bayi, ASI memang belum (cukup) keluar.TIDAK BENAR! Seringkali memang nampak seperti demikian keadaannya karena posisi pelekatan bayi belum sempurna sehingga bayi tidak berhasil untuk minum ASI yang tersedia dalam payudara ibunya. Pada saat belum banyak ASI yang tersedia (memang normalnya demikianlah keadaannya untuk beberapa hari pertama), posisi pelekatan bayi harus sempurna sehingga bayi dapat mengeluarkan dan minum ASI dari payudara ibunya. Kalau tidak, maka sering terjadi tapi dia sudah menyusu selama 2 jam, kenapa yak kok masih lapar. Ketika pelekatan belum sempurna, bayi tidak dapat minum ASI pertama yang dihasilkan oleh ibunya, yaitu kolostrum. Siapapun yang menyarankan anda untuk memerah/memompa ASI anda untuk mengetahui berapa banyak kolostrum yang dihasilkan jelas tidak memiliki pengetahuan laktasi, dan sebaiknya abaikan saja sarannya. Ketika pasokan ASI ibu menjadi banyak, kadangkala bayi tetap dapat minum ASI walaupun pelekatannya kurang baik.
  4. Bayiharusmenyusu pada setiap payudara masing-masing selama 20 (10, 15, 7.6) menit.TIDAK BENAR! Namun demikian, harus dipastikan bahwa bayi tidak sekedar ngempeng pada payudara tapi benar-benar minum dari payudara. Apabila ternyata seorang bayi sudah berhasil minum ASI selama 15-20 menit dari satu payudara, kemungkinan besar dia tidak mau lagi minum dari payudara yang lainnya. Kalau dia hanya minum selama satu menit pada satu payudara, kemudian mengisap sebentar-sebentar atau bahkan jatuh tertidur, selanjutnya hal yang sama juga terjadi pada payudara yang lainnya, maka besar kemungkinan bayi akan tetap lapar. Seorang bayi akan menyusu dengan lebih baik, lebih efektif dan lebih lama apabila pelekatan mulut bayi pada payudara ibu telah benar.
  5. Bayi ASI membutuhkan tambahan cairan air putih ketika cuaca sedang panas.TIDAK BENAR! ASI mengandung seluruh cairan (air) yang dibutuhkan oleh bayi.
  6. Bayi ASI perlu tambahan asupan vitamin D.TIDAK BENAR! Semua orang butuh vitamin D. Produsen susu formula memang menambahkannya pada produk mereka. Namun, bayi lahir dengan hati yang penuh dengan vitamin D, serta kebiasaan menjemur bayi setiap pagi juga membantu dia mendapatkan tambahan vitamin D melalui sinar ultra violet. Vitamin D sifatnya larut dalam lemak dan dapat disimpan oleh tubuh. Dalam keadaan tertentu, misalnya ketika ibunya sendiri ternyata menderita kekurangan vitamin D, maka memberikan tambahan suplemen vitamin D kepada bayi bisa dianggap perlu.
  7. Seorang ibu harus mencuci putingnya setiap kali sebelum mulai menyusui.TIDAK BENAR! Pemberian susu formula kepada seorang bayi memang harus sangat memperhatikan faktor-faktor kebersihan, karena susu formula merupakan tempat yang baik untuk berkembang biak-nya bakteri dan juga rentan terhadap kontaminasi. Membersihkan/mencuci puting malah akan menghilangkan minyak-minyak alami yang melindungi puting dari resiko lecet karena puting kering.
  8. Dengan memompa/memerah ASI, seorang ibu bisa tahu berapa banyak ASI yang dihasilkan olehnya.TIDAK BENAR! Seberapa banyak ASI yang berhasil diperah/dipompa tergantung pada banyak sekali faktor, termasuk tingkat stres seorang ibu. Seorang bayi yang menyusu dengan benar bisa mengeluarkan ASI dari payudara ibunya jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah ASI yang berhasil diperah/dipompa oleh ibunya sendiri. Jumlah ASI yang berhasil diperah/dipompa hanya bisa menjadi indikator terhadap seberapa banyak ASI yang bisa anda perah/pompa, bukan sebagai tolak ukur atas jumlah ASI yang bisa anda produksi secara keseluruhan.
  9. ASI tidak cukup mengandung zat besi untuk memenuhi kebutuhan bayi.TIDAK BENAR! ASI mengandung zat besi dalam jumlah yang tepat untuk memenuhi kebutuhan bayi. Apabila bayi lahir cukup bulan, maka zat besi yang terdapat didalam ASI bisa memenuhi kebutuhannya sekurangnya untuk 6 bulan pertama. Susu formula mengandung terlalu banyak zat besi, dan zat besi yang ditambahkan dalam susu formula tersebut sangat sedikit yang terserap oleh usus bayi, sehinga sebagian besar kemudian dikeluarkan kembali lewat BAB bayi.
  10. Lebih gampang memberikan susu dengan botol dibandingkan bila menyusui secara langsung.TIDAK BENAR! Namun demikian, seringkali proses menyusui menjadi sulit karena para ibu tidak mendapatkan bantuan praktis yang diperlukan pada saat pertama kali mulai menyusui bayinya. Suatu awal yang buruk memang dapat membuat proses menyusui menjadi sulit. Tetapi, kesulitan tersebut tentunya dapat diatasi. Kadangkala menyusui pada awalnya memang dirasakan sulit karena ibu tidak mendapatkan bantuan yang diperlukan sehingga timbul berbagai kesulitan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, berbagai kesulitan tersebut dapat diatasi dan menyusui menjadi semakin mudah.
  11. Menyusui membuat ibu tidak bebas beraktivitas.TIDAK BENAR! Tergantung bagaimana anda memandangnya. Seorang bayi dapat disusui dimana saja, kapan saja sehingga sebenarnya lebih membebaskan bagi sang ibu. Tidak perlu menggotong segala macam peralatan pembuatan susu formula kemana-mana. Tidak perlu cemas memikirkan dimana dapat menghangatkan susu formula tersebut. Tidak perlu khawatir kesterilan proses pembuatan susu formula tersebut. Dan yang terpenting, ASI tetap dapat diperah/dipompa apabila ibu memang harus meninggalkan bayi dirumah.
  12. Tidak ada cara untuk mengetahui seberapa banyak ASI yang diminum oleh bayi.TIDAK BENAR! Memang tidak ada cara yang mudah untuk mengukur seberapa banyak ASI yang dikonsumsi oleh bayi, tetapi bukan berarti anda tidak bisa tahu apakah bayi anda cukup mendapatkan ASI. Pastikan bahwa posisi badan bayi pada saat sedang menyusu, serta pelekatan mulut bayi pada payudara ibu telah benar sehingga bayi dapat MINUM ASI dan bukan hanya ngempeng. Bayi BAK minimal 5-6 kali dalam sehari, dan selesai sendiri menyusunya dengan cara melepaskan sendiri dari payudara ibu. Bayi tampak, tenang, kenyang dan tidak rewel ketika selesai menyusu, dan setiap bulan ada kenaikan BB bayi yang wajar.
  13. Dewasa ini, susu formula hampir sama kandungannya dengan ASI.TIDAK BENAR! Pernyataan bahwa susu formula sama kandungannya dengan ASI juga sudah pernah dipropagandakan produsen susu formula pada tahun 1900-an, bahkan jauh sebelumnya. Susu formula masa kini cenderung disama-samakan kandungannya dengan ASI, walau sebenarnya tidak. Setiap kandungan yang tidak terdapat dalam susu formula (tetapi terdapat dalam ASI) diputarbalikkan oleh produsen susu formula dan dianggap sebagai suatu nilai lebih. Intinya adalah, susu formula sama sekali berbeda dengan ASI, susu formula berusaha menyamakan diri dengan ASI walau dibuat berdasarkan pengetahuan yang sempit dan tidak menyeluruh tentang apa kandungan ASI sebenarnya. Susu formula tidak mengandung zat antibodi atau kekebalan tubuh, sel-sel hidup, enzim-enzim, dan tidak mengandung hormon. Dibandingkan ASI, susu formula mengandung lebih banyak zat aluminium, mangan, cadmium (sejenis logam berat), timbal dan zat besi. Susu formula juga mengandung jauh lebih banyak protein dibandingkan ASI. Kandungan protein dan lemak yang terdapat dalam susu formula juga berbeda dengan yang terdapat dalam ASI. Kandungan susu formula tidak berubah dari periode awal menyusui hingga akhir, dari hari pertama ke hari ketujuh ke hari ketigapuluh, dari satu ibu ke ibu lainnya, dari satu bayi ke bayi lainnya. ASI dibuat khusus hanya untuk bayi ANDA. Susu formula dibuat dan disamaratakan untuk semua bayi. Susu formula hanya mampu membuat bayi menjadi gendut, tetapi bayi tidak mendapatkan kandungan nutrisi dan zat gizi lainnya yang dibutuhkan, yang semuanya terdapat dalam ASI.
  14. Apabila seorang ibu menderita penyakit infeksi, maka dia harus berhenti menyusui.TIDAK BENAR! Menyusui justru malah akan membuat bayi lebih tahan terhadap infeksi, dengan sedikit sekali pengecualian. Pada saat sang ibu mengalami demam (atau batuk, muntah, diare, ruam, dsb), sang ibu sudah menularkan infeksi tersebut ke bayinya jauh sebelum ibu tahu bahwa ibu sedang menderita sakit. Perlindungan terbaik bagi bayi yang mengalami infeksi adalah ASI. Apabila bayi ikut tertular, maka bayi akan lebih cepat pulih bila bayi tetap mendapatkan ASI. Selain itu, mungkin saja sebenarnya sang bayi lah yang menderita infeksi dan menularkannya kepada ibunya, tetapi bayi tidak menunjukkan tanda-tanda sakit karena bayi terus minum ASI. Juga,infeksi payudara, termasuk di dalamnya rasa sakit dan pembengkakan pada payudara, bukan merupkan alasan untuk ibu berhenti menyusui. Bahkan, infeksi payudara akan cepat pulih apabila sang ibu terus menyusui, terutama menyusui dengan payudara yang sedang sakit.
  15. Apabila bayi menderita diare atau muntah-muntah, maka ibu harus berhenti menyusui.TIDAK BENAR! Obat yang paling mujarab untuk infeksi saluran pencernaan bayi adalah ASI. Hentikan segala macam jenis asupan lainnya untuk sementara waktu, tetapi lanjutkan pemberian ASI-nya. ASI satu-satunya cairan yang dibutuhkan oleh bayi ketika dia sedang diare dan/atau muntah-muntah, kecuali dalam kasus tertentu yang sifatnya luar biasa. Bayi merasa lebih nyaman ketika sedang menyusu, ibu merasa lebih tenang ketika sedang menyusui.
  16. Apabila seorang ibu sedang mengkonsumsi obat-obatan, maka dia harus berhenti menyusui.TIDAK BENAR! Hanya sedikit sekali jenis obat-obatan yang tidak aman untuk dikonsumsi selagi ibu sedang menyusui. Apabil ibu sedang minum obat, maka ASI akan mengandung sedikit sekali obat-obatan yang sedang diminum ibu tersebut. Walau begitu, apabila Anda cenderung takut untuk minum obat selama menyusui, ada baiknya Anda mencari obat alternatif yang lebih aman. Resiko pemberian makanan buatan (susu formula) pada ibu dan bayiharusdipertimbangkanketika memutuskan apakah menyusui dapat diteruskan (lembar informasiMenyusui dan Obat-obatandanMenyusui dan Penyakit).

Mitos-mitos Seputar Menyusui, Jack Newman MD, FRCPC, IBCLC, 2009
Revised by Edith Kernerman, IBCLC, 2009

sumber:http://www.breastfeedinginc.ca/content.php?pagename=doc-MB-indo

 

]]>
http://www.ayahasi.org/mitos-seputar-menyusui-episode-1.html/feed 0
Bingung Puting http://www.ayahasi.org/bingung-puting.html http://www.ayahasi.org/bingung-puting.html#respond Thu, 19 May 2016 23:59:06 +0000 http://www.ayahasi.org/?p=474 babies-crying-cute-crying-baby

gambar dari sini

Senang rasanya banyak para ibu bekerja yang bersemangat memberi ASI pada buah hatinya, semangat untuk terus memberi ASI dalam kondisi apapun sampai usia 2 tahun. Hanya sayang, pada saat ini banyak yang belum paham benar pemberian ASI perah pada bayi.

Para ibu sebenarnya sudah banyak yang mengerti bahwa pemberian ASI perah menggunakan sendok, pipet, atau gelas kecil. Tapi banyak juga yang kurang paham tentang resiko dari penggunaan botol, sehingga pemberian ASIP tetap menggunakan botol.

Minggu kemarin, ada 5 orang yg konseling tentang berkurangnya ASI perahnya. Malam ini tambah satu 😀

Klien pertama konsul : ASI saya akhir-akhir ini berkurang mbak

(saya coba gali semaksimal mungkin)

Saya : Apa ada masalah? Sehingga pikiran sedang banyak?

Klien 1 : Tidak

Saya : Apa di kejar deadline pekerjaan?

-> masih juga di jawab tidak.

Klien ini bercerita kalau makan banyak, hepi, dan sebagainya. Terakhir coba saya tanya bagaimana pemberian ASIPnya? Dengan media apa?

Klien 1 ini bercerita bahwa ia memakai dot, karena ASInya tidak maksimal yang masuk. Hari berikutnya.. ada lagi dengan permasalahan yang sama. Saya coba gali lagi, ternyata memang permasalahannya pada penggunaan dot.

Klien ke 3 datang lagi, masih dengan masalah yang sama. Kali ini saya sudah mulai cerdik 😀Saya tidak banyak tanya soal psikologisnya, langsung saya tembak, Ibu bisa bercerita bagaimana pemberian ASI perahnya di rumah? Siapa yang memberikan dan pakai apa memberikannya?.

Benar sekali, pakai DOT!

Klien ke 4 dan ke 5 juga langsung saya tembak, karena masalahnya sama :D. Tapi setiap klien ini, selalu berkata, Malam tetap ngempeng kok mbak dengan saya atau, Sepulang saya bekerja sampai pagi dan hari libur tetap saya susui kok mbak atau, Dia tidak bingung puting kok mbak, nyatanya tetap nyusu sama saya pada saat bersama saya.

YA.. Bayi tetap menyusu pada ibu, tapi ini bukan berarti bayi bingung puting. Bingung puting ada dua hal yaitu :

  1. Menolak payudara ibu
  2. Berkurangnya hisapan pada payudara ibu karena terbiasa menggunakan dot.

Bingung puting yang pertama, yaitu menolak payudara ibu, tidak sering terjadi pada bayi. Bayi tetap membutuhkan ibu untuk kenyamanan, sehingga tidak menolak payudara ibu. Ada seorang klien yang anaknya bingung puting karena menolak payudara ibu. Lahir secara SC. Tali lidah pendek. Sejak awal di kenalkan dot dari rumah sakit, dan di rumah di beri empeng. Pada usia 2 minggu relaktasi berjalan, dan secara pelan bayi mulai menghisap payudara ibu. Padahal di usia 2 minggu bayi benar-benar menolak payudara ibu!

Bingung puting yang kedua, ini yang sering terjadi di masyarakat. Bayi tidak menolak payudara ibu, tapi bayi mengurangi reflek hisapan pada payudara ibu. Di sini kita perlu memahami cara kerja bayi menyusu pada payudara. Ini penting supaya kita bisa mendapat pemahaman utuh.

Ketika bayi menyusu diperlukan posisi & perlekatan yg baik sehingga bayi bisa mengeluarkan ASI dengan maksimal. Ini mendasar namun seringkali terlupakan. Perlekatan mulut bayi yang baik ke payudara, perhatikan: sebagian besar areola bagian bawah masuk ke dalam mulut bayi, mulut bayi terbuka lebar, bibir bayi memble keluar, dagu menempel pada payudara (bukan hidung ya :p) & pipi bayi membulat (tidak cekung). Ini adalah tanda-tanda perlekatan baik.

Membutuhkan mulut yang terbuka lebar untuk menyusu dengan baik & ini tidak terjadi pada bayi yang menggunakan dot. Inilah salah satu penyebab bingung puting. Dagu yang menempel pada payudara juga berfungsi untuk bantu memerah ASI yang lagi lagi mekanisme ini tidak terjadi jika bayi minum pake dot. Perhatikan mulut bayi yang minum dari dot; dengan mencucu bayi sudah bisa mendapatkan isinya. Bahkan dot pun ketika kita balikkan bs meneteskan isinya. Jadi cara kerja yang beda ketika menyusu pada payudara dan minum dari botol juga membentuk pola kebiasaan buat bayi. Ini juga yang kita sering lupa .

Rata-rata, saya amati beberapa kasus hasil perahan ini berkurang pada usia 3-4 minggu penggunaan botol. Di sini ibu mulai panik. Biasa memerah per 3 jam bisa mendapatkan 200ml atau lebih, begitu di minggu ke 3 atau 4 bisa berkurang menjadi 100ml atau kurang. Padahal ini hasil perahan 2 payudara per 3 jam. Kejar setoran mulai terjadi.

Pemberian ASI menggunakan gela,s atau cangkir, atau sendok memang repot sekali. Perlu adaptasi lama. Adaptasi oleh si bayi, juga si pengasuh. Keikhlasan, ketulusan, dan kesabaran adalah kunci utama bagi si pengasuh. Jika ini tidak ada, bayi akan menolak dan merasa trauma. Jangan takut juga, bunda, jika si kecil meminum ASIP terlihat sedikit pada saat pemberian ASIPnya. Bayi kita cerdas. Dia akan mengganti kekurangan ASI pada saat menyusu langsung pada ibu.

Kembali pada permasalahan bingung puting kedua. Jika sudah terjadi, kita mulai lagi dari awal. Yang pertama jelas, buang penyebabnya. Dot, botol, singkirkan! Kedua, skin to skin lagi. Kontak kulit lagi dengan bayi. Jika perlu buka semua badan bayi (hanya memakai celana), buka baju ibu, selimut berdua. Rasakan kemesraan berdua, tidur bersama juga. Pacaran dong dengan si bayi. Jika masih juga kesulitan, ada baiknya panggil konselor laktasi. Relaktasi lagi. Dengan semangat yang kuat, ibu dan bayi bisa kembali menikmati proses menyusui ini dengan lancar.

Yang pasti, jangan tergoda dengan botol dan dot lagi 😀

Selamat menyusui

 

sumber artikel:http://jateng.aimi-asi.org/jangan-tergoda-dengan-botol-dan-dot/

]]>
http://www.ayahasi.org/bingung-puting.html/feed 0